Minggu, 26 Januari 2014

Mata

Hallooo pelangiiiiii....

Sebut satu bagian tubuhmu yang paling kamu suka?

Aku dengan lantang dan percaya diri akan menjawab mata. Ya.. aku mengagumi mataku sendiri..

Ketika terbuka normal mataku bisa dibilang tidak kecil. Mataku berbinar2. Disisi lain, ketika tertawa mataku menyiripit.. kecil dan segaris. Retinaku hitam, kelopakku letaknya pas dan begitu indah. Aku tak punya bulu mata yg tebal. Bulu mataku nyaris terlihat tidak ada.

Bagian dari mata yg paling menonjol untukku adalah alis. Alisku tak perlu pensil untuk dilukis dan ditebalkan. Dia cukup indah dengan bentuk dasarnya. 

Diluar semua keindahan mataku. Mataku terbatas. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Mataku minus hampir enam dengan silinder cukup besar. Hal ini aku alami ketika kecil. Keterbatasan pengelihatanku related dengan salahnya caraku dalam membaca. Aku sangat suka membaca dengan keadaan telentang dan itu TIDAK BAIK.

Dibilang tersiksa ya tersiksa bergantung  pada alat pengelihatan seperti softlense dan kacamata sangat mengganggu. Tidak jarang ketika aku lupa memakainya, ketika bertemu orang di suatu tempat aku tak menyapanya, bukan karena sombong tapi aku tidak dapat jelas melihat dan aku sudah cukup malu berulang kali salah menegur karena pengelihatanku terbatas dan kelupaanku memakai alat bantu lihat.

So guys, keep ur eyes healthy!


Rabu, 15 Januari 2014

Menikah

MENIKAH - Menata Kisah

Usiaku tak muda lg. I'm already 24 y.o . Teman2ku sudah banyak yg memilih menikah diusia lebih muda dari usiaku skrg bahkan beberapa diantaranya sudah memiliki buah hati. Luar biasa. Dalam hal ini ku akui aku kalah. #noted

Aku?
Aku masih belum siap. Aku masih berjibaku dengan diriku sendiri. Keinginan sudah tak terbendung tapi aku yakin ketika memang ada yg melamarku detik ini. Aku akan mundur kebelakang. Mengkoreksi diri dan menerima nasib bahwa memang benar aku belum pantas.

Entah apa yg membuatku seakan setakut itu.

Aku masih ingin menuai karirku setinggi langit karena ketika aku memutuskan untuk menikah, aku ingin menjadi ibu dan istri terbaik. Aku ingin mengurus anak2ku dan suamiku dengan tangan ku sendiri karena mereka miliku.

Aku ingin memastikan apa yg dilahap anakku dan suami bergizi. Aku ingin selalu memasakan makanan yg selalu berbeda tiap harinya.

Aku ingin menyambut suamiku pulang dengan pelukan dan membantu suamiku menanggalkan pakaian kerjanya. Aku ingin melayani keluarga kecilku kelak.

Aku ingin bisa memberikan seluruhnya atensiku untuk anakku. Melihatnya tumbuh besar disampingku. Dan aku yg paling tau ttg pertumbuhannya.

Masalah anak adalah masalah utama yg tidak bisa dijadikan prioritas kedua. Dia adalah alasan terbesarku kenapa aku harus mencari materi dengan bersungguh-sungguh tapi jika taruhannya adalah kurangnya kasih sayangku untuknya. Aku mengalah untuk mengorbanankan karirku dan memberikan kasih sayang sebagai kebutuhan utamanya. Dan aku memberikan kesempatan untuk suamiku bekerja lebih keras.
Aku memang pernah hidup jauh dibawah garis berkecukupan tapi itu semua tidak menjadikan ku manusia 'budak' uang.

Aku ingin menjadi manager keuangan yang baik di keluargaku. Mengatur penghasilan suamiku dengan baik dan tetap bahagia. Sederhana tapi tetap bahagia.

Aku ingin menjadi perempuan berkualitas bukan dalam arti karier dan uang. Ini lebih dari itu. Simpel tapi pasti mengorbankan banyak hal termasuk karierku tapi tidak merusak kompetensiku yg sudah aku bangun dari ketika aku masih dibilang bocah ingusan. Dimanapun berada aku pasti sukses dan aku tau itu.

Aku ya tetap aku. Setiap ambisiku menghidupkan aku. Pola pikirku adalah pagarku dalam mengambil keputusan. Dan setelah menikah, ambisiku bukan materi, ambisiku lebih berkualitas dalam arti yg sangat mendalam.

Dan..

Priaku tak harus miloner dan berada dijajaran 10 orang terkaya di Indonesia lebih dari itu, dia harus mampu membuatku mengangguk tanpa logika. Dia harus membuatku tunduk atas nama cinta. Dan membuat logikaku turun ke angka 0. Dan akhirnya aku memilih bersamanya dan menyertakan tawa bahagia sampai nanti, sampai mati.



Senin, 13 Januari 2014

Menari diatas awan, berpendar dan menyambut pelangi

Hobiku sangat tidak bisa dibilang 'menari'. Untuk ukuran tubuh sepertiku sebagus apapun tarian dan sepintar apapun aku meliukan tubuh seirama dengan dentuman lagu teriiring. Yah, aku memang lebih suka menari di dalam mimpi..Ok leave it.. HaHaHa

Menari ini kutulis dengan arti yg lebih dalam dan teranalogi dari sebuah pencarian dan perjuangan panjang dan berliku. Memang tidak seekstrim peluh yg keluar sehabis menari pada umumnya, 'menari' versiku condong kepada waktu, energi dan pikiran yg sudah tidak wajar aku korbankan. Ini tentang suatu 'rasa' dan suatu pencarian atas suatu kepastian atas mimpi besar yg sudah bersemayam terlalu lama.

Ini tentang kasih sayang sepanjang umur.

Kasih sayang yg selalu kucari, kujajaki dan kutelusuri tanpa kompas. Aku hanya bisa 'menari' dengan mata menelisik ke kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah. Aku mencari.

Dan semakin lama aku 'menari', aku semakin lelah. Dan aku memilih tidak memberikan energi berlebihan pada tarianku. Aku hanya melakoni tarianku sesuai irama. Dan akhirnya ketika memang sudah waktunya irama pengiringku terhenti. Tarianku pun terhenti. Dan itulah saat yg tepat. Dan waktunya menuai 'tepukan riuh' dan selamat berbahagia.

Dan bukan lagi waktuku menari, aku sudah mencukupkan pula berpendar. Kali ini aku sudah saatnya tersenyum menyambut pelangi.

Salam pelangi,
Mige