MENIKAH - Menata Kisah
Usiaku tak muda lg. I'm already 24 y.o . Teman2ku sudah banyak yg memilih menikah diusia lebih muda dari usiaku skrg bahkan beberapa diantaranya sudah memiliki buah hati. Luar biasa. Dalam hal ini ku akui aku kalah. #noted
Aku?
Aku masih belum siap. Aku masih berjibaku dengan diriku sendiri. Keinginan sudah tak terbendung tapi aku yakin ketika memang ada yg melamarku detik ini. Aku akan mundur kebelakang. Mengkoreksi diri dan menerima nasib bahwa memang benar aku belum pantas.
Entah apa yg membuatku seakan setakut itu.
Aku masih ingin menuai karirku setinggi langit karena ketika aku memutuskan untuk menikah, aku ingin menjadi ibu dan istri terbaik. Aku ingin mengurus anak2ku dan suamiku dengan tangan ku sendiri karena mereka miliku.
Aku ingin memastikan apa yg dilahap anakku dan suami bergizi. Aku ingin selalu memasakan makanan yg selalu berbeda tiap harinya.
Aku ingin menyambut suamiku pulang dengan pelukan dan membantu suamiku menanggalkan pakaian kerjanya. Aku ingin melayani keluarga kecilku kelak.
Aku ingin bisa memberikan seluruhnya atensiku untuk anakku. Melihatnya tumbuh besar disampingku. Dan aku yg paling tau ttg pertumbuhannya.
Masalah anak adalah masalah utama yg tidak bisa dijadikan prioritas kedua. Dia adalah alasan terbesarku kenapa aku harus mencari materi dengan bersungguh-sungguh tapi jika taruhannya adalah kurangnya kasih sayangku untuknya. Aku mengalah untuk mengorbanankan karirku dan memberikan kasih sayang sebagai kebutuhan utamanya. Dan aku memberikan kesempatan untuk suamiku bekerja lebih keras.
Aku memang pernah hidup jauh dibawah garis berkecukupan tapi itu semua tidak menjadikan ku manusia 'budak' uang.
Aku ingin menjadi manager keuangan yang baik di keluargaku. Mengatur penghasilan suamiku dengan baik dan tetap bahagia. Sederhana tapi tetap bahagia.
Aku ingin menjadi perempuan berkualitas bukan dalam arti karier dan uang. Ini lebih dari itu. Simpel tapi pasti mengorbankan banyak hal termasuk karierku tapi tidak merusak kompetensiku yg sudah aku bangun dari ketika aku masih dibilang bocah ingusan. Dimanapun berada aku pasti sukses dan aku tau itu.
Aku ya tetap aku. Setiap ambisiku menghidupkan aku. Pola pikirku adalah pagarku dalam mengambil keputusan. Dan setelah menikah, ambisiku bukan materi, ambisiku lebih berkualitas dalam arti yg sangat mendalam.
Dan..
Priaku tak harus miloner dan berada dijajaran 10 orang terkaya di Indonesia lebih dari itu, dia harus mampu membuatku mengangguk tanpa logika. Dia harus membuatku tunduk atas nama cinta. Dan membuat logikaku turun ke angka 0. Dan akhirnya aku memilih bersamanya dan menyertakan tawa bahagia sampai nanti, sampai mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar