Menari ini kutulis dengan arti yg lebih dalam dan teranalogi dari sebuah pencarian dan perjuangan panjang dan berliku. Memang tidak seekstrim peluh yg keluar sehabis menari pada umumnya, 'menari' versiku condong kepada waktu, energi dan pikiran yg sudah tidak wajar aku korbankan. Ini tentang suatu 'rasa' dan suatu pencarian atas suatu kepastian atas mimpi besar yg sudah bersemayam terlalu lama.
Ini tentang kasih sayang sepanjang umur.
Kasih sayang yg selalu kucari, kujajaki dan kutelusuri tanpa kompas. Aku hanya bisa 'menari' dengan mata menelisik ke kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah. Aku mencari.
Dan semakin lama aku 'menari', aku semakin lelah. Dan aku memilih tidak memberikan energi berlebihan pada tarianku. Aku hanya melakoni tarianku sesuai irama. Dan akhirnya ketika memang sudah waktunya irama pengiringku terhenti. Tarianku pun terhenti. Dan itulah saat yg tepat. Dan waktunya menuai 'tepukan riuh' dan selamat berbahagia.
Dan bukan lagi waktuku menari, aku sudah mencukupkan pula berpendar. Kali ini aku sudah saatnya tersenyum menyambut pelangi.
Salam pelangi,
Mige
Tidak ada komentar:
Posting Komentar